• slide 1

    Bahan Seragam

    Menerima Pesanan Bahan Seragam untuk Seragam Kerja Perusahaan Anda...

  • slide 2

    Bahan Rasio

    Berkualitas dan terjangkau adalah moto kami untuk produk-produk Textileone yang berada dalam kelompok CAREER COLLECTION...

  • slide 3

    Bahan Nina Klein

    Merupakan koleksi tekstil berkualitas tinggi untuk profesional yang mendambakan pakaian yang prima setiap harinya...

  • slide 4

    Bahan Element

    Berkualitas dan terjangkau adalah moto kami untuk produk-produk Textileone yang berada dalam kelompok CAREER COLLECTION...

  • slide 5

    Bahan Progressive

    Merupakan koleksi tekstil berkualitas tinggi untuk profesional yang mendambakan pakaian yang prima setiap harinya...

  • slide nav 1

    Bahan Seragam

    Menerima Pesanan Bahan Seragam untuk Seragam Kerja Perusahaan Anda...
  • slide nav 2

    Bahan Rasio

    Berkualitas dan terjangkau adalah moto kami untuk produk-produk Textileone yang berada dalam kelompok CAREER COLLECTION...
  • slide nav 3

    Bahan Nina Klein

    Merupakan koleksi tekstil berkualitas tinggi untuk profesional yang mendambakan pakaian yang prima setiap harinya...
  • slide nav 4

    Bahan Element

    Berkualitas dan terjangkau adalah moto kami untuk produk-produk Textileone yang berada dalam kelompok CAREER COLLECTION...
  • slide nav 5

    Bahan Progressive

    Merupakan koleksi tekstil berkualitas tinggi untuk profesional yang mendambakan pakaian yang prima setiap harinya...
  • slide nav 6

    Jacket

    Seragam Kerja yang biasa di pakai di dalam atau diluar Kantor terutama kalau ada acara tugas keluar

Distributor online Bahan Seragam

Suport Service : Telpon 021 7356 891 Fax 021 73 555 33
HP : 0813 1545 6872 / 0877 8193 4534 / 0856 9222 5679

FB : www.facebook.com/Bahan.Seragamkerja.co.id
Twitter : https://twitter.com/infoseragam

Delete this element to display blogger navbar

Gaya Abadi Yves Saint Laurent

Diposting oleh Rohman RoRaSH Al Banna di 20.40
DARI Paris hijrah ke New York dan kemudian bergeser ke Denver, Yves Saint Laurent melakukan tapak tilas gaya abadi yang disebarluaskan kepada khalayak mode lewat pameran retrospektif.

Kota yang kini tengah “dikunjungi” Yves Saint Laurent, Denver, memang bukanlah kota yang identik dengan high fashion layaknya Paris maupun New York sebagai fashion capital dunia. Kendati demikian, Denver sebagai tempat pameran Yves Saint Laurent: The Retrospective, yang mempertunjukkan karya masterpiece Saint-Laurent selama 40 tahun kariernya di dunia mode, memperlihatkan bahwa kota mode Amerika bukan hanya New York maupun Los Angeles.

“Tidak banyak yang menyangka high-fashion hidup dan dihargai di Denver,” tutur Christoph Heinrich, Direktur Denver Art Museum.

Hadirnya pameran retrospektif empat dekade karier Saint Laurent di dunia mode, menurut Heinrich, sekaligus bisa mengangkat nama Denver di liga mode internasional, selain memperlihatkan kepada khalayak gaya abadi sang perancang asal Prancis itu.

Sahabat dekat Saint-Laurent, Dominique Deroche, yang berprofesi sebagai publisher desainer yang meninggal pada 2008 lalu itu, juga memberi anggukan setuju. “Yves (Saint-Laurent) mungkin belum pernah berkunjung ke Denver, tapi saya yakin dia akan senang juga bangga mengetahui koleksinya dipamerkan di kota lain, selain New York,” sebutnya.

Pameran retrospektif yang digelar di Denver Art Museum hingga 8 Juli mendatang tersebut mempertunjukkan sebanyak 200 koleksi haute couture yang merangkum jejak karier Saint Laurent, mulai saat dia membuka butiknya di Paris pada 1966 hingga memutuskan untuk pensiun pada 2002. Kurator pameran Florence Muller mengatakan, seluruh kesatuan ensemble pameran tersebut dipilih dari koleksi lengkap karya Saint-Laurent yang berjumlah 5.000 buah, yang dikonservasi Yayasan Pierre Berge-Yves Saint Laurent.

Muller mengatakan, gaya rancangan Saint-Laurent akan terus abadi karena desainer bergelar King of Fashion itu piawai meleburkan berbagai elemen dan kemudian membentuknya kembali menjadi koleksi yang bercita rasa modern, tanpa mendikte gaya personal penggunanya. Gaya rancangan yang menegaskan kutipan populer milik Saint-Laurent, “fashion fade, style is eternal” atau tren mode bisa saja berlalu, tapi gaya selalu abadi.

“Yang istimewa dari Yves Saint Laurent adalah dia tidak pernah mendikte perempuan untuk menggunakan busana tertentu. Visinya adalah menawarkan banyak alternatif gaya kepada kaum hawa. Dan, yang terpenting, dia ingin bisa mendandani semua perempuan,” sebut Muller.

Adapun koleksi Yves Saint Laurent terakhir kali dipamerkan pada 2002 di Paris. Di Denver, Muller memulai “tapak tilas” jejak karier Saint Laurent dengan koleksi empat gaun trapeze.
Busana tersebut merupakan rancangan ikonik Saint Laurent ketika mengambil alih tim kreatif Dior pada 1958. Busana yang paling menarik adalah koleksinya yang paling kontroversial dari tahun 1971. Kala itu Saint Laurent mengambil inspirasi dari masa-masa suram Prancis selepas Perang Dunia II.

“Koleksi ini pernah dinilai sebagai koleksi terburuk,” ujar Muller.

Tentu saja, koleksi istimewa Saint Laurent berupa setelan tuksedo bergaya feminin menegaskan kekuatan wanita merupakan highlight utama pameran. Tidak hanya itu, Muller melengkapi pameran dengan karya-karya seniman besar seluruh dunia yang kerap memengaruhi gaya rancangan Saint Laurent, seperti lukisan Vincent van Gogh yang dituangkan menjadi sebentuk jaket berdetail bordir maupun gaun bergaya kubistik yang terinspirasi lukisan Picasso.

Di ruangan lain, terdapat mode internasional yang juga memberi pengaruh tersendiri bagi Saint Laurent. “Kendati dia bukan orang yang gemar bepergian, dunia mode internasional selalu menarik minatnya,” sebut Muller, merujuk pada bolero khas Spanyol, jaket bergaya Oriental ala China, atau busana penuh warna dari Maroko.

“Gaya rancangan Saint Laurent akan selalu abadi karena dia dengan jenius selalu bisa mempertahankan gaya klasik yang familier dan membungkusnya dengan napas kontemporer,” sebut Heinrich.

“Alasan itu yang membuat gaya rancangan Saint Laurent inspiratif bagi banyak desainer muda,” imbuhnya.

Dari sisi lain, melalui pameran retrospektif Yves Saint Laurent di Denver, yang bukan merupakan kota mode,dapat dilihat bahwa high-fashion memiliki daya tarik tersendiri bagi museum di seluruh dunia.
(tty)

http://lifestyle.okezone.com

0 komentar :

Posting Komentar

 
Twitter DeliciousFacebook Digg StumbleuponMore